Banyak orang menyebut Taman Nasional Baluran adalah miniatur hutan Indonesia karena hampir semua tipe hutan terdapat di Taman Nasional Baluran. Mulai dari hutn hujan tropis pegunungan sampai gugusan terumbu karang yang tersebar dari Pantai Bama di Timur wilayah Baluran sampai pantai Bilik di sebelah Utara wilayah Baluran. Dan yang paling khas dari wilayah ini adalah hamparan savana yang luasnya menutupi kurang lebih 40% wilayah Baluran. Keberagaman tipe hutan inilah yang membuat banyak peneliti dan akademisi tertarik untuk melakukan penelitian maupun study wisata.
1. Hutan Pantai
Pantai Baluran terdiri dari pasir hitam, putih, batu pantai yang hitam kecil, atau lereng karang, tergantung daerahnya. Vegetasi pantai yang tumbuh adalah formasi Baringtonia yang berkembang baik (antara Pandean dan Tanjung Candibang, di Labuan Merak), pandan (Pandanus tectorius) di Tanjung Bendi, Pemphis acidula di Air Karang, Acrophora, Porites lutea, Serioptophora histerix dan Stylophora sp.
2. Hutan Mangrove dan Rawa Asin
Tipe hutan ini terdapat di daerah pantai Utara dan Timur kawasan Taman Nasional Baluran, seperti di Bilik, Lambuyan, Mesigit, Tanjung Sedano dan di Kelor. Mangrove pendek yang tumbuh dengan agak baik di atas lumpur, terdapat di Kelor dan Bilik yang dikuasai oleh kayu api (Avicenia sp), Bogen (Sonneratia spp), Bakau-bakauan (Rhizopra spp), cantigi (Ceriops tagal) serta Rhizopora apiculata. Rawa asin yang hampir gundul yang berasal dari hutan mangrove yang ditebang habis, terdapat di Utara Pandean, Mesigit, Sebelah Barat Bilik dan beberapa tempat lainnya. Beberapa pohon kecil yang tumbuh di sini antara lain Avicennia sp dan Lumitzera racemosa tetapi tidak terdapat tumbuhan bawah.
3. Hutan Payau
Hutan payau sangat disukai satwa liar, karena tersedianya air tawar sepanjang tahun. Hutan payau yang terbesar terdapat di Sungai Kepuh sebelah Tenggara dan daerah lebih kecil di Popongan, Kelor, Bama di bagian Timur dan Gatal di bagian Barat Laut. Vegetasi yang ada disini adalah Malengan (Excoecaria agallocha), Manting (Syzygium polyanthum), dan poh-pohan (Buchanania arborescens).
4. Padang Rumput Savana
Padang rumput savana merupakan klimaks kebakaran yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Savana ini dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu savana datar dan savana bergelombang. Savana datar ; tumbuh diatas tanah hitam alluvial muda yang berbatu-batu seluas sekitar 1.500 - 2.000 ha di bagian Tenggara suaka, yaitu sekitar Plalangan dan Bekol.
5. Hutan Hujan Pegunungan
Terletak di Gunung Baluran sampai pada ketinggian 1200 m dpl. Merupakan hutan yang masih sangat perawan karena aksesibilitasnya yang sangat susah. wilayah ini mempunyai peran penting sebagai daerah tangkapan air. Sumber air yang keluar di wilayah Baluran mempunyai peran vital sebagai sumber air minum bagi satwa, terutama ketika memasuki musim kemarau.
6. Hutan Musim
Hutan musim yang terdapat di Baluran dapat dipisahkan ke dalam 2 kelompok, yaitu hutan musim dataran rendah dan hutan musim dataran tinggi. Hutan musim dataran rendah luasnya sekitar 1.500 ha yang berbatasan dengan hutan jati, evergreen forest, dan savana Bekol serta savana Kramat. Sedangkan hutan musim dataran tinggi terdapat di lereng gunung Baluran, Gunung Klosot dan Gunung Periuk.
8. Padang Lamun
Formasi padang lamun di Taman Nasional Baluran tersebar pada pantai-pantai dengan kelerengan landai dan tidak memiliki gelombang air yang terlalu ekstrim. Pantai-pantai itu antara lain terdapat di sekitar pantai Bama, Kajang, Balanan, Lempuyang terus ke arah barat sampai ke Pantai Bilik-Sijile dan Air Karang. Formasi Lamun ini banyak yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari ikan, karena lokasinya yang berdekatan dengan hutan mangrove, formasi ini Lamun menyediakan hasil laut yang berlimpah, salah satunya yang bernilai ekonomis tinggi yaitu bandeng (Chanos chanos), cumi-cumi dan lain sebagainya..
9. Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Baluran dapat dijumpai di perairan pantai Bama, Lempuyang, Bilik, Air Karang, Kajang, Balanan dan Kalitopo. Terumbu karang yang ada di Taman Nasional Baluran adalah jenis karang tepi yang memiliki lebar beragam dan berada pada kisaran kedalaman 0,5 meter – 40 meter. Bentuk – bentuk karang yang hidup pada lokasi tersebut meliputi Acropora Branching, Acropora Encrusting, Acropora Tubulate dan Mushroom Coral.
...
Fauna
Tidak ada ukuran pasti tentang pengertian mamalia besar. Tapi disini kami memasukkan beberapa jenis mamalia yang ada di Taman Nasional Baluran yang termasuk dalam kategori mamalia besar yaitu Banteng Jawa (Bos javanicus), Rusa Timor (Cervus rusa), Kerbau Liar (Bubalus bubalis), Babi Hutan (Sus scrofa), Anjing Hutan (Cuon alpinus) dan Macan Tutul (Panthera pardus).
Secara umum populasi mamalia besar di Taman Nasional Baluran beberapa tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup mengkhawatirkan, terutama Banteng Jawa, Kerbau Liar dan Babi Hutan. Sedangkan untuk Rusa Timor meskipun mengalami penurunan jumlah populasi (sensus terakhir tahun 1997 berjumlah 4036 ekor) tetapi masih berada dalam kondisi yang tidak terlalu mengkhawatirkan. Keberadaannya masih bisa dipantau dengan sangat mudah di sekitar savanna Bekol serta temuan jejak dan kotoran yang masih cukup banyak ditemukan di dalam kawasan.
Sedangkan untuk predator Anjing Hutan dan Macan Tutul, meskipun belum ada sensus yang menyeluruh, namun berdasarkan catatan perjumpaan baik langsung maupun tidak langsung diperkirakan jumlahnya masih tergolong aman (sebagai predator).
Berdasarkan catatan perjumpaan yang dikumpulkan oleh petugas lapangan di Taman Nasional Baluran diketahui bahwa jumlah Anjing Hutan dalam satu kelompok bisa mencapai 36 ekor.
Tabel 8. Frekuensi Perjumpaan Ajag Tahun 2004 – 2008
No
Tahun
Frekuensi perjumpaan
Jumlah
(ekor)
1
2004
17
1 – 36
2
2005
2
3
3
2006
12
1 – 30
4
2007
4
1 – 8
5
2008
9
1 – 21
Banteng Jawa, yang juga merupakan flagship Taman Nasional Baluran mengalami penurunan jumlah populasi mulai tahun 2003
Berikut tabel dinamika populasi Banteng Jawa sejak tahun 1997- sampai 2007 yang dirangkum dari berbagai kegiatan survey
Banteng
Jawa
Tahun
1997*1
1998*2
2000 *3
2002 *4
2003*5
2005*6
2006 *7
2007*8
Populasi
282
115
219 – 267
81 – 115
21
28 – 47
CC : 15
JK : 12
34
Keterangan :
*1: Menurut TN Baluran (1997), metode sensus dengan Line Transect Sample Count, dengan 16 transect. Dilaksanakan pada bulan Nopember (musim hujan).
*2: Menurut Andik Purwanto (1998) dalam Skripsinya, metode pengamatan terkonsentrasi di sumber air dan savana bekol (200 Ha), dengan 5 kali ulangan, jam pengamatan 05.00 – 18.00.
*3: Menurut TN Baluran (2000), metode sensus dengan Consentration Count, dengan sumber air/kubangan tempat minum satwa. Pengamatan selama 3 hari (3 kali ulangan), periode pengamatan pukul 16.00 – 06.00 serta melibatkan sejumlah 50 personil pengamat (rata-rata 2 pengamat per titik). Jumlah titik pengamatan 24 buah, tersebar di Wilayah Bekol : 16 titik, Pandean : 3 titik, Karangtekok : 5 titik. Sedangkan jumlah titik pengamatan yang ditemukan satwa target (banteng dan kerbau liar) adalah; wilayah bekol : 15 titik, Pandean : 2 titik dan karangtekok : nihil.
*4: Menurut TN Baluran (2002), metode Consentration Count, dengan sumber air/kubangan tempat minum satwa. Pengamatan selama 4 hari (4 kali ulangan), periode pengamatan pukul 17.00 – 05.00. Jumlah titik pengamatan 13 buah, melibatkan sejumlah 26 personil pengamat (rata-rata 2 pengamat per titik).
*5: Menurut TN Baluran (2003), sensus dilaksanakan dengan metode Jelajah kawasan dan Consentration Count (7 titik konsentrasi).
*6: Menurut TN Baluran (2005), Hasil perkiraaan dari jejak satwa. Metode Jelajahan kawasan dengan pengamatan identifikasi jejak di sumber air sepanjang perengan – batu hitam, bama (15 sumber air) selama 5 kali ulangan dan sepanjang sungai Bajulmati (3 jalur pengamatan).
*7: Menurut TN Baluran (2006), metode Consentration Count (CC) di sumber air/kubangan tempat minum satwa (3 kali ulangan) dan Jelajahan kawasan (JK) di sepanjang sungai Bajulmati (1 kali ulangan). Periode pengamatan terkonsentrasi pukul 17.00 – 05.00. Jumlah titik pengamatan 11 buah, melibatkan sejumlah 22 personil pengamat.
*8: Menurut TN Baluran (2007), metode Consentration Count (CC) di sumber air/kubangan tempat minum satwa (3 kali ulangan), pengamatan terkonsentrasi pukul 17.00 – 05.00. Jumlah titik pengamatan 15 titik di kubangan dan 2 titik di tepi sungai dan Jelajahan kawasan (JK) di sepanjang sungai Bajulmati (1 kali ulangan).
Beberapa factor penyebab turunnya populasi Banteng Jawa di Taman Nasional Baluran adalah
Menurunnya persediaan air minum, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Perubahan habitat (cover ground dan feeding ground) yang diakibatkan oleh invasi Acacia nilotica.
Aktifitas manusia di dalam kawasan dalam jumlah besar dan berlangsung dalam waktu yang lama seperti aktifitas pembasmian akasia, pengambilan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu.
Perburuan liar yang dilakukan dengan berbagai cara mulai dari senjata api, jebakan seling (kawat besi) dan racun.
Predator, yang lebih banyak ditemui adalah Anjing Hutan.
Tidak jauh berbeda dengan nasib Kerbau Liar yang juga mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan terutama sejak diadakan penjarangan pada tahun 1985-1989.
Berikut tabel trend populasi Kerbau Liar sejak tahun 1941 sampai 2006
Kerbau Liar
Tahun
1941/48/52/68
1980 *4
1996
1997
2000
2001
2006
Populasi
+ 100 *3
343
248 – 441
226
48-64
19-29
11
Keterangan
*1: Menurut Ammar (1984)
*2 : Sensus metode Consentration Count, dengan sumber air/kubangan tempat minum satwa. Pengamatan selama 3 hari (3 kali ulangan), periode pengamatan pukul 16.00 – 06.00 serta melibatkan sejumlah 50 personil pengamat (rata-rata 2 pengamat per titik). Jumlah titik pengamatan 24 buah, tersebar di Wilayah Bekol : 16 titik, Pandean : 3 titik, Karangtekok : 5 titik. Sedangkan jumlah titik pengamatan yang ditemukan satwa target (banteng dan kerbau liar) adalah; wilayah bekol : 15 titik, Pandean : 2 titik dan karangtekok : nihil.
*3: Metode Consentration Count, dengan sumber air/kubangan tempat minum satwa. Pengamatan selama 4 hari (4 kali ulangan), periode pengamatan pukul 17.00 – 05.00. Jumlah titik pengamatan 13 buah, melibatkan sejumlah 26 personil pengamat (rata-rata 2 pengamat per titik).
*4: Metode Consentration Count di sumber air/kubangan tempat minum satwa (3 kali ulangan) dan penjelajahan kawasan di sepanjang sungai Bajulmati (1 kali ulangan). Periode pengamatan terkonsentrasi pukul 17.00 – 05.00. Jumlah titik pengamatan 11 buah, melibatkan sejumlah 22 personil pengamat.