Masyarakat adat Cungking yang masih eksis di Bumi Prabu Minak Jinggo (Banyuwangi) sampai sekarang adalah masyarakat pribumi yang sangat menjunjung tinggi dan mempercayai kebesaran leluhurnya (Mbah Cungking). Hal inilah yang menjadikan mereka lebih senang disebut sebagai masyarakat Cungking. Mbah Cungking dikenal sebagai sosok yang mempunyai keistimewahan dan penuh dengan tirakat untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Mbah Cungking sudah dikenal menyerupai orang yang dekat dengan Tuhan atau sepeti wali (islam) pada masa silam. Sehingga meskipun sang wali telah tiada namun penghargaan dari masyarakat tidak pudar termakan zaman.
Bentuk rasa hormat dan penghargaan masyarakat Cungking kepada sang wali digambarkan pada setiap bulan Syura atau Muharam yaitu dengan selamatan. Acara ritual ini sudah menjadi rutinitas tahunan masyarakat adat Cungking sejak dahulu. Dapat dipastikan setiap awal bulan Syura akan diadakan acara ritual berupa Larung Sesaji ke laut, Ruwatan, Selamatan dan terkadang Acara Wayang. Untuk acara wayang sangat jarang diadakan oleh masyarakat adat Cungking.
Pada tahun ini merupakan event yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagian dari keluarga besar masyarakat Cungking yang menyebut dirinya sebagai masyarakat Cungking Bakungan mendapat “Titah Keprabon” atau mandat dari para sesepuh yang mendalami keyakinan batin tinggi. Para sesepuh mendapat wangsit (pesan mimpi) bahwa Indonesia di tahun 2010 akan sering mendapat bencana besar. Hal ini bisa diredakan jika diadakan selamatan dalam bentuk ritual ruwatan di bumi para leluhur yang tertua. Tempat itu adalah di Taman Nasional Baluran (Baluran berasal dari kata Mbah Lurah yang artinya sesepuh yang paling tua). Akhirnya para sesepuh yang mendapat wangsit itu sepakat akan mengadakan ruwatan dalam bentuk wayang ringgit di Baluran.
Tidak hanya sesepuh dari masyarakat Cungking khususnya Bakungan saja yang mendapat wangsit seperti itu, ternyata para pelaku kebatinan di luar Banyuwangi pun mendapatkannya. Pelaksanaan ruwatan tersebut harus dilakukan pada malam tahun baru 2010 bertepatan dengan tanggal 31 Desember 2009 atau tanggal 11 Syura 1430 H. Sehingga tidak heran jika pada acara ini dihadiri puluhan orang-orang ahli kebatinan dari luar kota seperti Malang,Kediri, Blitar, Tulungagung, Sidoarjo dan Jakarta.
Acara ruwatan sendiri pada dasarnya bertujuan untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar dibebaskan dari segala macam bencana yang akan menimpa dan gangguan mahluk ghaib. Sehingga mereka berharap mendapatkan keselamatan dan dapat hidup damai sejahtera. Ruwatan pada kali ini dilakukan dengan menggelar wayang ringgit yang mengambil cerita “Tibaning Wahyu Gusti” atau yang artinya turunnya wahyu atau petunjuk dari Yang Maha Kuasa kepada umat manusia agar lebih ramah dan santun terhadap alam ini.
Wayang Ringgit kali ini dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2009 mulai pukul 21.00 s/d 03.00 WIB.
Urutan acara ruwatan kali ini dimulai dengan sambutan tuan rumah yaitu Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Ir. Indra Arinal. Pada pidato sambutannya, pak Indra Arinal menyampaikan beberapa pesan yang penuh makna, "Hari ini adalah hari dimana terjadi pertemuan antara budaya dan lingkungan..."
Dua kekuatan yang mustahil lepas atau dipelaskan dari kehidupan manusia di bumi. Dan sudah sewaktunya kedua kekuatan besar itu bersatu untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia di bumi.
Kemudian petuah dari Ki Bimo (sesepuh dari Malang). Ki Jati Kusumo bertindak sebagai dalang yang membawakan cerita wayang dari awal hingga berakhir. Suara sang Dalang terdengar semakin bersemangat menjiwai setiap masing-masing tokoh pewayangan, tak berkurang meskipun dingin malam semakin menusuk tulang. Meskipun di usia yang sudah dikatakan lansia, Ki Jati tetap antusias melaksanakan tugasnya sampai cerita selesai. Tak jarang pula kelincahan tangannya ketika tokoh-tokoh pewayangan beraksi disetiap adegan. Sehingga membuat penonton semakin terpukau dengan kehebatan sang dalang dan makna cerita yang dibawakan. Sebagian besar penonton berasal dari masyarakat sekitar Baluran, Desa Wonorejo dan sekitarnya.
Setiap detik sepertinya tak rela penonton tinggalkan cerita itu, alur cerita yang diangkat semakin lama semakin seru. Hingga tepat pada pukul 03.00 WIB pagi cerita berakhir, sang dalang pun sayu-sayu menurunkan suara perwatakannya. Tampaknya masyarakat seitar yang menonton benar-benar puas dengan isi cerita wayang tersebut. Mereka akan paham bahwa betapa pentingnya kepedulian manusia kepada alam sekitar. Kita manusia hidup berdampingan dengan alam, maka sudah sepatutnya bila harus menjaga dengan sebaik-baiknya lingkungan alam sekitar. Harapan kita kepada Yang Maha Kuasa adalah kita bisa hidup damai, sejahtera, makmur di muka bumi ini dan terhindar dari segala macam bencana dan musibah......
Seperti itulah kisah masyarakat Cungking dan acara adat ruwatan Wayang Ringgit. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini. Setiap leluhur kita adalah orang-orang bijak yang banyak menyimpan ilmu dan nilai-nilai kehidupan. Maka kita harus benar-benar menghormati dan menjunjung tinggi nilai kebaikan yang mereka tanamkan....-JM
©